Kiriman dari : Andi Re Hidayaht
story :zaky
Assalmualaikum... kenalkan aku Zaky. Sebelumnya aku mohon maaf bila terdapat kelemahan dalam tulisan saya ini, alasannya adalah jujur ini yaitu goresan pena perdana aku perihal pengalaman saya mengenai kejadian mistis pasca sebulan lebih aku mendapat situs ini.
Cerita ini betul-betul terjadi di tempat aku, dan bukan sekedar mengada-mengada. Saya ialah anak berdarah keturunan orisinil Sulawesi. Lebih tepatnya di Gorontalo, suatu provinsi termuda di Indonesia, sebuah kawasan yg wilayahnya 1/4 dari luas pulau sulawesi. Mungkin sobat-sobat segala belum terlalu mengenal betul tempat aku, bagi itu aku menunjukkan sedikit citra perihal tanah kelahiran aku ini.
Seperti halnya daerah-kawasan yg yang lain kebanyakan, Gorontalo juga mempunyai kisah/mitos tersendiri, diantaranya wacana sosok makhluk yang melegenda di Gorontalo yg penduduk menyebutnya "PONGGO". Sosok ini hampir miriplah dengan sosok Kunyang di Kalimantan atau Palasik di Sumbar. Hanya saja perbedaannya terletak pada mangsanya, dan ponggo cuma dimiliki oleh kaum wanita saja. Jika Kunyang cuma mengusik Wanita hamil, yg lain halnya dengan Ponggo. Makhluk ini selalu menyerang semua orang yg dianggap musuh.
Pada biasanya Ponggo bukanlah penganut ilmu hitam, melainkan perbuahan wujud dari seorang wanita renta menjadi makhluk berlidah panjang, berambut panjang sampai matakaki, dan tubuhnya telanjang. Makhluk ini senantiasa berkeliaran/terbang pada saat hari menjelang petang hingga larut malam untuk mengejar organ badan insan yakni usus. Hal ini disebabkan alasannya doktrin penduduk Gorontalo dari zaman ke zaman yg mengharamkan setiap orang untuk tidur di senja hari, pada waktu pergantian siang dan malam.
Ponggo dapat dikatakan yaitu sebagian ruh manusia yg dipakai jin jahat buat memangsa setiap orang yg dianggap musuh oleh pemilik ruh tersebut dikala pemiliknya (wanita) itu melakukan dialam bawah sadarnya atau tidur. Oleh sebab itu wajah ponggo ini seperti dengan pemiliknya.
Karakteristik-ciri wanita yg memelihara Ponggo yakni kondisi emosinya cepat meningkat. Wanita tersebut dapat cepat emosi, dan beliau sering menggunakan kelamin sapi sebagai lauknya sehari-hari. Kita dapat mengetahui kemunculan makhluk ini dengan suaranya yang mirip burung gagak. Jika suaranya terdengar kencang bermakna dia jauh, dan kalau suaranya pelan/kecil memiliki arti dia di sekeliling kita. Makhluk ini takut dengan Lidi. Untuk itu bila kami berjumpa dengan sosok ini, maka pukullah lidi itu ketanah 3x dan beliau mulai jatuh. Kemudian makhluk tersebut mesti dikirim ke pemiliknya.
Dengan Adanya mitos ini, dari dulu di tempat kami sering sekali para orang renta melarang putri mereka supaya tidak tidur pada saat matahari terbenam. Kata mereka "Dila potuluhu lolango no'u, momiyahe ponggo yio" artinya: Jangan Tidur sore-sore nak, nanti kamu bisa melihara ponggo". Dan iya, itu terbukti...
Pertengahan tahun 1999 (saya lupa bulannya) di desa saya, heboh dengan meninggalnya tukang jahit secara tak wajar. Jenazahnya diketemukan dengan kondisi **maaf** Anusnya berlubang sebesar kepalan tangan orang remaja. Almarhum sempat di otopsi, dan risikonya jenazah dinyatakan sudah kehilangan salah sesuatu organnya merupakan usus (persoalan ini sempat dimuat di surat kabar "GorontaloPost" edisi 1999).
Korban berjulukan Husin, Seorang duda yg berprofesi selaku tukang jahit, hingga saat ini kasusnya belum menemukan titik jelas. Pihak Kepolisian dan keluarga kewalahan mengatasi masalah ini. Polisi dahulu terpaksa menyimpulkan bahwa ini adalah persoalan dengan modus pembunuhan. Namun sampai saat ini kasusnya masih ngambang, bahkan sampai detik ini kabarnya sudah tak terdengar lagi, semuanya nihil.
Masih terbetik tanda tanya besar dalam pikiran masyarakat sekitar. Jika benar ini pembunuhan, siapa pelakunya? tak ada satupun saksi-saksi dan bukti-bukti yg menguatkan. Akhirnya masyarakat mengaitkannya dengan kisah kehadiran Makhluk Ponggo di atas genteng rumah pak Husin 2 malam sebelum almarhum meninggal. Dan pada saat itu om Saya yang bernama Om Muhlis sendiri yg melihatnya.
Waktu itu jikalau tak salah sudah larut malam, kompleks rumah Husin telah sepi, maklumlah jalannya mampu dibilang masih jalan setapak, itupun cuma 4 rumah yg ada di kompleks itu termasuk rumah si Husin, sisanya kebun jagung dan pohon bambu. Om Muhlis yg kebetulan tukang bentor (bentor: jenis kendaraan roda tiga khas Gorontalo) habis mengirimkan penumpang, melalui di depan rumah si Husin. Dia sempat menyaksikan lampu kamar si Husin masih menyala. Dipikirannya, mungkin si Husin lagi menuntaskan jahitan pesanan konsumen. Namun saat ia akan memasukkan bentornya ke dalam garasi yg letaknya bersebelahan dengan kamar Husin yg hanya dipisahkan tembok setinggi pundak orang remaja, dia terkejut dengan suara gemuruh di atap rumah husin. Difikirnya lagi mungkin burung merpati peliharaan si Husin.
Om Muhlis kembali meneruskan mengunci pintu garasi. Saat dia akan mengunci garasinya, tiba-datang dia menangkap suara gila, seperti bunyi gagak, perasaannya akan tidak lezat. Apalagi dikala itu lagi gempar-gemparnya cerita wacana seorang nenek di kompleks itu yang memelihara Ponggo. Dalam benaknya dia bertanya , si Husin kan cuma milik merpati, kok suaranya mirip gagak (gambaran perkataan).
Masih terbetik tanda tanya besar dalam pikiran masyarakat sekitar. Jika benar ini pembunuhan, siapa pelakunya? tak ada satupun saksi-saksi dan bukti-bukti yg menguatkan. Akhirnya masyarakat mengaitkannya dengan kisah kehadiran Makhluk Ponggo di atas genteng rumah pak Husin 2 malam sebelum almarhum meninggal. Dan pada saat itu om Saya yang bernama Om Muhlis sendiri yg melihatnya.
Waktu itu jikalau tak salah sudah larut malam, kompleks rumah Husin telah sepi, maklumlah jalannya mampu dibilang masih jalan setapak, itupun cuma 4 rumah yg ada di kompleks itu termasuk rumah si Husin, sisanya kebun jagung dan pohon bambu. Om Muhlis yg kebetulan tukang bentor (bentor: jenis kendaraan roda tiga khas Gorontalo) habis mengirimkan penumpang, melalui di depan rumah si Husin. Dia sempat menyaksikan lampu kamar si Husin masih menyala. Dipikirannya, mungkin si Husin lagi menuntaskan jahitan pesanan konsumen. Namun saat ia akan memasukkan bentornya ke dalam garasi yg letaknya bersebelahan dengan kamar Husin yg hanya dipisahkan tembok setinggi pundak orang remaja, dia terkejut dengan suara gemuruh di atap rumah husin. Difikirnya lagi mungkin burung merpati peliharaan si Husin.
Om Muhlis kembali meneruskan mengunci pintu garasi. Saat dia akan mengunci garasinya, tiba-datang dia menangkap suara gila, seperti bunyi gagak, perasaannya akan tidak lezat. Apalagi dikala itu lagi gempar-gemparnya cerita wacana seorang nenek di kompleks itu yang memelihara Ponggo. Dalam benaknya dia bertanya , si Husin kan cuma milik merpati, kok suaranya mirip gagak (gambaran perkataan).
Makin di dengar bunyi itu kian pelan. Om Muhlis ingin tau, kesannya ia memutuskan memanjat tembok yg memisahkan kamar Husin dan garasi bentornya. Dia mengamati sekeliling pekarangan sampai jendela kamar Husin. Lampu kamar yg tadinya menyala sekarang sudah padam, fikirnya mungkin Husin telah tamat menjahit. Suara gagak yg didengar Om Muhlispun kini terdengar kurang jelas, Om Muhlispun agak lega, hingga matanya secara tidak sengaja tertuju di atap rumah Husin.
Alangkah terkejutnya Om Muhlis dikala dikala itu ia sadar bahwa sosok makhluk berambut panjang, tanpa busana, dengan lidah menjulur panjang keluar, sedang memperhatikan dia dengan bola mata sebesar pingpong. Makhluk itu bertengger di sela-sela atap rumah dengan tiang antena rumah si Husin, dengan posisi jongkok (Posisi katak).
Alangkah terkejutnya Om Muhlis dikala dikala itu ia sadar bahwa sosok makhluk berambut panjang, tanpa busana, dengan lidah menjulur panjang keluar, sedang memperhatikan dia dengan bola mata sebesar pingpong. Makhluk itu bertengger di sela-sela atap rumah dengan tiang antena rumah si Husin, dengan posisi jongkok (Posisi katak).
Om Muhlis pun bengong kaku dicekam panik yg sangat besar. Ayat dingklik, al-lapang dada, adalah ucapan pertama yg impulsif keluar dari bibirnya. Dia tidak dapat bergerak seketika. Hampir sekian detik dia bertatapan dengan makhluk jadi-jadian tersebut, sampai ketika dia sadar jika makhluk itu telah hilang dengan mninggalkan teriakan yg kencang.
Om Muhlispun dengan secepatnya melompat dari tembok, dan berlari cepat menuju rumahnya. Dia tak sadar bila kunci garasinya belum dicabut dari grendel pintu garasi. Om Muhlis sudah tidak menghiraukan, ia cemas. Dua hari setelah insiden itu Om Muhlis belum cerita apa-apa kepada istrinya mengenai apa yang dilihatnya malam itu. Hingga dikala 3 hari sehabis kematian Husin kemudian ia membeberkannya kepada masyarakat (Cerita ini aku dengar dari om Muhlis segera).
Mendengar peristiwa itu, awalnya aku tidak begitu percaya, hingga pengalaman aku dua tahun yg dahulu membuktikannya. Pada bulan Oktober tahun 2009, warga di kampung sebelah kembali digegerkan dengan kabar menyeramkan, ialah seorang ibu yg berprofesi selaku tukang pijit diduga warga yakni makhluk jadi2an atau Ponggo. Saat itu saya masih duduk dibangku kuliah, semester 2 jurusan akuntansi dan bertepatan dengan ahad-ahad menjelang UAS (Ujian Akhir Semester). Dari kecil aku sudah tinggal bersama tante-tante aku. Rumah kalian terletak 100 meter dari jalan raya, melalui gank selebar 3 meter.
Malam itu malam Rabu, aku ada acara semester buat Mata Kuliah Pengantar Bisnis. Jam sudah Menunjukkan pukul setengah 10 malam, saya menyaksikan belum ada satupun sahabat-sahabat yang maju mengirimkan hasil ujian mereka ke depan kelas. Padahal saya telah simpulan mengisi semua soal-soal, baik soal-soal transaksi maupun soal-soal opsi ganda. Saya menyaksikan batterai di Nokia Xpress Music sayapun sudah menipis.
Om Muhlispun dengan secepatnya melompat dari tembok, dan berlari cepat menuju rumahnya. Dia tak sadar bila kunci garasinya belum dicabut dari grendel pintu garasi. Om Muhlis sudah tidak menghiraukan, ia cemas. Dua hari setelah insiden itu Om Muhlis belum cerita apa-apa kepada istrinya mengenai apa yang dilihatnya malam itu. Hingga dikala 3 hari sehabis kematian Husin kemudian ia membeberkannya kepada masyarakat (Cerita ini aku dengar dari om Muhlis segera).
Mendengar peristiwa itu, awalnya aku tidak begitu percaya, hingga pengalaman aku dua tahun yg dahulu membuktikannya. Pada bulan Oktober tahun 2009, warga di kampung sebelah kembali digegerkan dengan kabar menyeramkan, ialah seorang ibu yg berprofesi selaku tukang pijit diduga warga yakni makhluk jadi2an atau Ponggo. Saat itu saya masih duduk dibangku kuliah, semester 2 jurusan akuntansi dan bertepatan dengan ahad-ahad menjelang UAS (Ujian Akhir Semester). Dari kecil aku sudah tinggal bersama tante-tante aku. Rumah kalian terletak 100 meter dari jalan raya, melalui gank selebar 3 meter.
Malam itu malam Rabu, aku ada acara semester buat Mata Kuliah Pengantar Bisnis. Jam sudah Menunjukkan pukul setengah 10 malam, saya menyaksikan belum ada satupun sahabat-sahabat yang maju mengirimkan hasil ujian mereka ke depan kelas. Padahal saya telah simpulan mengisi semua soal-soal, baik soal-soal transaksi maupun soal-soal opsi ganda. Saya menyaksikan batterai di Nokia Xpress Music sayapun sudah menipis.
Akhirnya setelah cukup usang menanti, aku memberanikan diri melangkah ke meja dosen yg sedang sibuk menggaris daftar nilai mahasiswa. Perlahan-lahan saya meletakkan lembar jawaban di atas meja, dan kembali ketempat duduk saya bagi mengambil tas dan peralatan cobaan aku. Saya eksklusif pamit kepada dosen untuk pulang dan meninggalkan sahabat-sahabat yg masih sibuk dengan alat hitung mereka. Saya menuju bangsal kampus, menyalakan motor, dan bergegas meninggalkan kampus.
Saat perjalanan pulang, perasaan saya mulai tak lezat. Entah kenapa malam itu jalan yang umum saya lalui, terasa sepi, utamanya jalan yg terdapat pohon beringin tua disamping bangunan bekas pabrik meubel. Saya pun teringat dengan desas desus yg menjadi pembicaraan warga ketika itu. Mendekati pohon itu, dahi aku pun mulai mengeluarkan keringat, bulu kuduk saya merinding. Saya berupaya memaksimalkan kecepatan motor saya. Tiba –tiba ketika tepat bersebelahan dengan pohon tersebut, saya berteriak "Allahu Akbar" lampu depan aku dengan tidak sengaja menyinari benda asing. Benda tersebut mirip rambut seorang perempuan, dan iya itu memang ujung rambut yang berasal dari atas pohon beringin tersebut.
Saat perjalanan pulang, perasaan saya mulai tak lezat. Entah kenapa malam itu jalan yang umum saya lalui, terasa sepi, utamanya jalan yg terdapat pohon beringin tua disamping bangunan bekas pabrik meubel. Saya pun teringat dengan desas desus yg menjadi pembicaraan warga ketika itu. Mendekati pohon itu, dahi aku pun mulai mengeluarkan keringat, bulu kuduk saya merinding. Saya berupaya memaksimalkan kecepatan motor saya. Tiba –tiba ketika tepat bersebelahan dengan pohon tersebut, saya berteriak "Allahu Akbar" lampu depan aku dengan tidak sengaja menyinari benda asing. Benda tersebut mirip rambut seorang perempuan, dan iya itu memang ujung rambut yang berasal dari atas pohon beringin tersebut.
Badan aku gemetaran, aku mencicipi ujung kepala aku tersapu oleh rambut tersebut ketika melewatinya. Saat itu pula dahan pohon tersebut bergoyang dengan kencang. Saya pun agak sedikit lega saat dua meter meninggalkan pohon itu, tetapi peristiwa itu tak selsai sampai disitu.
Motor saya mogok dengan datang-datang. Saya berupaya menyalakannya dengan memakai stater tangan, alasannya adalah menurut saya itu ialah cara paling praktis dikala itu. Saya tidak mampu memakai stater kaki, tenaga aku sudah habis terkuras oleh rasa takut. Saya sudah tak acuh dengan kondisi sekitar, sehingga aku tidak sadar kalau di depan aku telah berdiri sosok Ponggo berjalan mendekati aku secara perlahan. Makhluk itu berlangsung dengan lunglai ke arah aku dengan tatapan tajam, lidah panjangnya bergelantungan dibawah bibirnya. Rambut panjangnya pun kelihatan menyentuh tanah menutupi buah dadanya.
Saya kembali dicekam ketakutan begitu besar. Saya berusaha membaca ayat-ayat pendek, dan berupaya semoga tak pingsan ditempat. Kurang lebih 10 menit saya berusaha menyalakannya dan jadinya berhasil. Saya pun melewati dengan lajunya meninggalkan makhluk itu. Sesampai dirumah aku telah tak bertenaga. Ibu saya ketakutan melihat kondisi aku. Tetangga2 pun akan berdatangan menanyakan apa yg terjadi. Saya dulu menceritakannya. Esoknya aku demam, 3 hari bolos kuliah, dan saat melakukan demam saya kadang mengigau dan mimpi jelek mengenai kejadian malam itu.
Teman-teman seluruh, sekian dulu cerita tentang pengalaman saya ini. Semoga kita segala dapat memahami dengan kalimat-kalimat yang saya sajikan. Maklum saya hanya insan biasa, pasti banyak kelemahan. Untuk itu saya mohon kritik dan sarannya, apapun itu.
Terima kasih.
Motor saya mogok dengan datang-datang. Saya berupaya menyalakannya dengan memakai stater tangan, alasannya adalah menurut saya itu ialah cara paling praktis dikala itu. Saya tidak mampu memakai stater kaki, tenaga aku sudah habis terkuras oleh rasa takut. Saya sudah tak acuh dengan kondisi sekitar, sehingga aku tidak sadar kalau di depan aku telah berdiri sosok Ponggo berjalan mendekati aku secara perlahan. Makhluk itu berlangsung dengan lunglai ke arah aku dengan tatapan tajam, lidah panjangnya bergelantungan dibawah bibirnya. Rambut panjangnya pun kelihatan menyentuh tanah menutupi buah dadanya.
Saya kembali dicekam ketakutan begitu besar. Saya berusaha membaca ayat-ayat pendek, dan berupaya semoga tak pingsan ditempat. Kurang lebih 10 menit saya berusaha menyalakannya dan jadinya berhasil. Saya pun melewati dengan lajunya meninggalkan makhluk itu. Sesampai dirumah aku telah tak bertenaga. Ibu saya ketakutan melihat kondisi aku. Tetangga2 pun akan berdatangan menanyakan apa yg terjadi. Saya dulu menceritakannya. Esoknya aku demam, 3 hari bolos kuliah, dan saat melakukan demam saya kadang mengigau dan mimpi jelek mengenai kejadian malam itu.
Teman-teman seluruh, sekian dulu cerita tentang pengalaman saya ini. Semoga kita segala dapat memahami dengan kalimat-kalimat yang saya sajikan. Maklum saya hanya insan biasa, pasti banyak kelemahan. Untuk itu saya mohon kritik dan sarannya, apapun itu.
Terima kasih.

Posting Komentar